Kisah kesalahan berfikir Insinyur Militer AS saat Perang Dunia II

Pada saat Perang Dunia II, militer Amerika Serikat berusaha memperkuat pesawat terbang pengebom atau bomber dengan mengevaluasi kerusakan pada unit yang kembali dari misi. Mereka sampai memeriksa dan menemukan bahwa bagian sayap pesawat yang berhasil kembali ke pangkalan penuh dengan lubang tembakan. Akhirnya, mereka menyimpulkan bagian tersebut harus diperkuat agar pesawat-pesawat tidak jatuh tertembak musuh pada misi berikutnya.
Namun, Abraham Wald, matematikawan dan ahli statistik dari Columbia University, menyadari bahwa pandangan insinyur dari militer AS ini termasuk Survivorship Bias.
Wald menyarankan agar pesawat diperkuat pada bagian-bagian yang tidak ada bekas tembakan, yakni pada bagian kokpit, lambung, buritan, dan mesin pesawat. Logika yang lebih masuk akal adalah unit pesawat yang tidak berhasil pulang ke pangkalan mungkin telah jatuh dan tertembak pada bagian-bagian tersebut. Mengabaikan pesawat-pesawat yang hilang dalam evaluasi tentu berpotensi mengarah pada pengambilan keputusan yang terbalik.
Survivorship bias berisiko menimbulkan dampak negatif pada berbagai aspek kehidupan. Berikut adalah beberapa contohnya.

  1. Penilaian yang tidak akurat
    Kesalahan berpikir ini menyebabkan penilaian yang tidak akurat karena kita hanya mempertimbangkan pengalaman dari orang-orang yang sukses. Ini bisa membuat kita berpikir terlalu positif atau optimistis.
    Sebagai contoh, beberapa orang terkaya versi Forbes tidak lulus S1. Kemudian kita menyimpulkan bahwa pendidikan tingkat lanjut tidak penting, tanpa mempertimbangkan seberapa banyak orang yang kesulitan untuk mendapat pekerjaan karena terkendala batasan pendidikan.
  2. Pengambilan keputusan yang tidak tepat
    Beberapa keputusan yang diambil berdasarkan survivorship bias membuat kita “buta” pada kemungkinan adanya tantangan. Contohnya, calon pembeli di e-commerce sering kali hanya membaca ulasan bintang 5 dari pembeli yang merasa puas, tanpa menyadari atau memperhitungkan pembeli lain yang kecewa, menerima barang rusak, atau memilih tidak menulis ulasan.
    Tentu kita perlu melihat ulasan bintang 3,2, bahkan bintang 1.
  3. Pengembangan diri yang terhambat
    Terjebak dalam bias bertahan hidup bisa menghambat pengembangan diri karena Kita hanya terinspirasi oleh keberhasilan orang lain tanpa memahami tantangan dan kegagalan yang juga dialaminya. Akibatnya, Kita tidak memahami bagaimana cara menghadapi kegagalan dengan baik. Hal ini tentu bisa berdampak besar bagi banyak aspek kehidupan kita.

Survivorship bias mengajarkan kita untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh, mengambil keputusan berdasarkan data, serta sedikit sikap kritis dan skeptis dapat membantu kita dalam membuat keputusan yang lebih bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *