Dahulu, dia hidup sangat miskin, sampai-sampai dia tidak bisa mengikuti rihlah yang dilaksanakan oleh sekolahnya. Saat itu, biaya pendaftarannya hanya 1 Riyal Saudi saja (4.400 rupiah saat ini).
Walaupun saya sudah menangis-nangis memohon kepada keluarga agar saya dapat mengikuti rihlah, tapi tetap saja keluarga saya tidak punya uang 1 riyal untuk mendaftarkan saya mengikuti rihlah.
Sehari sebelum rihlah, saya berhasil menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan guru di kelas.
Lalu guru itupun memberi saya uang satu riyal sebagai hadiah, diiringi tepuk tangan para murid-murid yang lain.
Pada saat itu, saya tidak lagi mikir apa-apa, selain berlari kencang untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti rihlah.
Duka nestapa terasa terbang seketika dan berubah total menjadi bahagia berkepanjangan selama berbulan-bulan.
Hari-hari sekolahpun berlalu, tidak terasa telah beranjak dewasa. Setelah melewati berbagai rintangan hidup, setelah bekerja keras selama bertahun-tahun dan berkat anugerah dari Allah, dia menjadi orang sukses. Dan selanjutnya saya membuat yayasan sosial.
Setelah dia memulai bergerak di bidang amal sosial, saya kembali teringat kisah masa kecilnya. Teringat kembali gurunya sewaktu kecil, orang Palestina yang pernah memberinya uang 1 riyal.
Dia mulai mengingat-ingat, apakah dia dahulu memberi saya uang 1 riyal itu sebagai sedekah atau kah hadiah, karena dia sudah berhasil menjawab pertanyaannya?
Yang jelas, dia tidak menemukan jawaban yang pasti.
Dia berkata di dalam hati ;
“Apapun motif dan niat sang guru, guru telah menyelesaikan problem besar saya saat itu, tanpa membebankan siapa-siapa”.
Oleh karenanya, ia mengunjungi kembali sekolahnya itu, dan mencari tau keberadaan gurunya, yg orang Palestina itu. Sampai akhirnya mendapatkan jalan untuk menemuinya.
Singkat kata, akhirnya dia dipertemukan kembali oleh Allah dengan guru baik itu, yg mana, kondisi beliau sedang sangat susah, tidak lagi bekerja dan siap-siap pulang kampung.
Selanjutnya, setelah ia memperkenalkan diri, saya katakan pada beliau, bahwa ; “Saya punya hutang besar pada engkau wahai guru, pada beberapa tahun yang lalu.”
Gurunya ini kaget bukan kepalang. “Apa benar ada orang yang punya hutang pada saya,?” kata Beliau..
Saya pun menjelaskan, ;
“Apakah Bapak masih ingat dengan murid bapak, yang pernah bapak beri uang 1 Riyal, karena murid Bapak itu berhasil menjawab soal yang bapak lontarkan di kelas bapak saat itu?.”
Setelah berusaha mengingat-ingat, guru saya ini akhirnya tertawa, dan berkata:
“Ya..ya.. saya ingat.
Jadi kamu mencari saya untuk mengembalikan uang 1 riyal itu ?”
“Iya pak” jawabnya.
Setelah sedikit berbincang, ia ajak beliau naik mobil dan mereka pun beranjak.
Selanjutnya, mereka sampai ke tujuan, dan kendaraannya berhenti tepat di depan sebuah Villa Indah. Setelah berada di dalam Villa, ia menyampaikan niatnya kepada sang guru.
“Pak, villa ini saya berikan kepada Bapak untuk melunasi hutang saya dahulu, plus mobil yang tadi kita naiki, dan gaji per bulan seumur hidup, serta pekerjaan buat putra bapak di perusahaan saya”.
Gurunya kaget bukan kepalang, dan berkata :
“Tetapi ini terlalu banyak, nak?”
“Percayalah Pak, kegembiraan saya dengan 1 Riyal yang Bapak berikan pada saya saat itu, lebih besar nilainya dibandingkan dengan 10 villa seperti ini. Saya tidak akan dapat melupakan kebahagiaan itu sampai sekarang,” jawabnya.

Dia adalah Sulaiman bin Abdullah Al Rajhi, pemilik salah satu bank terbesar di Arab Saudi, Al Rajhi Bank. Dengan aset pada kuartal pertama tahun 2025 sebesar 1.023 miliar riyal (4,5 Kuadriliun rupiah). Kini, Sulaiman Al Rajhi mewakafkan separuh hartanya untuk pengentasan kemisikinan di Arab Saudi.
masyallah….